Minggu, 04 November 2012

Pengusaha Gaharu Bisa Kaya Raya

Pengusaha gaharu bisa kaya, sebab per kilogramnya, gaharu kering dijual Rp 3 juta. Per pohon gaharu biasanya diperoleh 2 kilogram gaharu kering siap jual. Di umurnya 4 – 8 tahun sudah bisa dipanen.

Ini terungkap saat pelatihan kelompok Gaharu 88 yang beralamat di Jl. Jati VIII No 80 a Sawah Lebar Bengkulu bekerjasama dengan Majalah Trubus menggelar pelatihan budidaya pohon gaharu Sabtu – Minggu (31 Januari – 1 Februari). Pelatihan diikuti dengan praktik di Jl. Cimanuk.
Pelatihan diikuti 27 peserta yang berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Pontianak dan Malaysia. Hal ini disampaikan Ketua Kelompok Gaharu 88, Ir. Joni Surya Djakfar.
Peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari pemateri yang berasal dari Asosiasi Gaharu Indonesia (Asgarin), Dr. M. Faisal Salampessy, SH. Peserta yang cukup menarik perhatian adalah mantan Sekjen Dephan RI, Letjen TNI Purn R.H. Soeyono, SE dan peserta dari Malaysia Dato’ Dr. Hj. Ilias yang tampak serius memperhatikan penjelasan pemateri.
“Pelatihan seperti ini merupakan media untuk disampaikan kepada masyarakat, kalangan pengusaha mengenai manfaat pohon gaharu yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sehingga dengan digelarnya pelatihan menarik masyarakat dan kalangan pengusaha untuk menanam pohon gaharu,” ujar Joni.http://asgarin.com/
Nilai ekonomis gaharu terletak pada gubal gaharu yang muncul setelah pohon gaharu terinfeksi dan mati. Gubal gaharu mengandung damar wangi (aromatic resin) yang mempunyai aroma khas. Di Indonesia dijumpai tidak kurang dari 16 jenis tumbuhan penghasil gubal gaharu.
“Gaharu juga bermanfaat untuk obat-obatan. Selain itu juga bermanfaat untuk wewangian. Saat ini kebutuhan gaharu dunia mencapai lebih dari 61.310 ton per tahun. Konsumsi gaharu terbesar seperti negara-negara Timur Tengah, Taiwan, Jepang, China. Di negara-negara tesebut gaharu menjadi kebutuhan pokok. Ini prospek yang sangat bagus,” jelas Joni.
Sekjen Asgarin, Dr. M. Faisal Salampessy, SH mengatakan, budidaya gaharu cukup mudah, tidak memerlukan perawatan tinggi dan Bengkulu memiliki struktur tanah yang cocok untuk tumbuhnya tanaman gaharu. “Bengkulu merupakan habitat tumbuhnya gaharu di pulau Sumatra.
Pohon gaharu ini mudah dibudidayakan. Bisa ditanam sebagai tanaman tumpang sari, bisa ditanam di pekarangan rumah, batas tanah,median jalan, taman, pot dan lain-lain. Kebutuhan pasar terhadap gaharu juga semakin meningkat,” ujar Faisal.
Dilanjutkan Faisal, peran serta pemerintah sangat diperlukan untuk sosialisasi gaharu ini. “Pemerintah hendaknya lebih berkonsentrasi untuk memperhatikan komoditi ini.
Selain memiliki nilai ekonomis tinggi budidaya gaharu juga akan meningkatkan jumlah tenaga kerja. Misalnya untuk proses pemanenan membutuhkan tenaga kerja yang relatif banyak. Pemanenan dilakukan dengan cara penebangan terhadap pohon gaharu dan selanjutnya dilakukan pemisahan dari tiap lubang bor yang telah membentuk gubal gaharu, ini membutuhkan tenaga kerja yang banyak,” terang Faisal.

Jumat, 02 November 2012

Sukabumi Menjadi Salah Satu Pilot Project Budidaya Gaharu; Mungkinkah?

Pada pertemuan di Argentina bulan Maret yang lalu CITES berencana melarang perdagangan gaharu Indonesia, padahal Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam telah menghasilkan teknologi yang memungkinkan untuk memproduksi gaharu dari tanaman budidaya secara cepat dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. 

Pada 04 April 2009 lalu, di daerah Sagaranten Sukabumi, Jawa Barat telah dilakukan panen Gaharu hasil penelitian. Hasil panen menunjukkan bahwa tanaman gaharu yang diinokulasi 2 tahun yang lalu mampu menghasilkan gaharu yang berwarna tua, Warna coklat tua ini merupakan indikasi kualitas yang lebih baik. Pohon-pohon yang diinokulasi ini merupakan hasil tanaman tahun 2000 dengan jenis Aquilaria Cressna dan Aquilaria Malaccencis dan diinokulasi pada umur 6 tahun.

Menurut Dr. Erdy Santoso ahli peneliti gaharu dari Pusat Litbang Hutan & Konservasi Alam, rentang waktu inokulasi berkorelasi dengan kualitas gaharu yang dihasilkan. Tanaman penghasil gaharu yang tidak menghasilkan gaharu kayunya berwarna putih, setetah diinokulasi selama 3 bulan mulai menunjukkan proses terbentuknya gaharu yang diindikasikan berubahnya warna menjadi kecoklatan. Ada kecenderungan semakin lama rentang inokulasi maka warnanya akan semakin gelap dan mengindikasikan kualitas yang meningkat pula.

Produksi GAHARU dapat dipenuhi dari Hutan Tanaman
Di lokasi ini telah diujicobakan empat jenis isolat pembentuk gaharu yaitu isolat JERMIA 1-4 yang diperoleh dari berbagai daerah di Indonesia, hasil inokulasi di Sukabumi mengindikasikan bahwa Jermia 2 dan Jermia 4 memberikan respon yang lebih produktif. Hasil Inokulasi di Bangka laku di pasaran Timur Tengah seharga 800 -1000 real per kilogram atau sekitar 2,5 juta rupiah per kilogram. Pada umumnya inokulasi selama satu tahun menghasilkan produk gaharu minimal dua kilogram per pohon.

Menurut Kepala Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Adi Susmianto bahwa pada pertemuan Komisi Tumbuhan CITES tanggal 17 s/d 22 Maret 2009 di Argentina ada upaya-upaya beberapa pihak untuk memberi sanksi kepada Indonesia berupa larangan memperdagangkan gaharu. Berdasarkan pengalaman Puslitbang Hutan & Konservasi Alam dalam membudidayakan tanaman gaharu tidak sulit. Dalam lima tahun terakhir di Carita (Jawa Barat) telah dibudidayakan gaharu seluas 42 hektar, di Cikampek (Jawa Barat) seluas 2 hektar, dan di Riau seluas 12 hektar, Selain itu di beberapa binaan Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam dl Kalimantan Barat telah ditanam sebanyak 143.000 pohon. Di Kalsel sebanyak 20.000 pohon, di Jambi sebanyak 60.000 pohon, serta di Kaltim sebanyak 200.000 pohon.

Saat ini teknik inokulasi pembentukan gaharu telah dikuasai Puslitbang Hutan & Konservasi Alam. Selain itu, Puslitbang Hutan & Konservasi Alam telah mengoleksi 23 isolat yang berasal dari 17 Propinsi di Indonesia.

Dengan demikian larangan memperdagangkan gaharu pada pertemuan CITES di Argentina pada Bulan Maret yang lalu tidak beralasan, karena ke depan gaharu Indonesia yang dipasarkan tentunya berasal dari hasil budidaya, bukan berasal dari hutan alam. 


Gaharu; Teknik Budidaya & Rekayasa Produksi Untuk Hasil Lebih Cepat dan Berlimpah

Indonesia telah dikenal sebagai salah satu Negara penghasil Gaharu didunia, karena mempunyai lebih dari 25 jenis pohon penghasil Gaharu yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Gaharu merupakan Komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini masih banyak diminati oleh konsumen,baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dilihat dari wujudnya, Gaharu merupakan gumpalan berbentuk padat, warnanya coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum (jika dibakar) yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. Oleh sebab itu tidak semua tumbuhan penghasil gaharu menghasilkan gaharu. Beberapa jenis tumbuhan penghasil gaharu potensial antara lain : Aqualaria spp., Aetoxylon sympetallum, Gyrinops, dan Gonystylus.
Pemanfaatan gaharu di Indonesia oleh masyarakat terutama di pedalaman Sumatera dan Kalimantan berlangsung puluhan dan bahkan ratusan tahun yang lalu. Secara tradisional gaharu dimanfaatkan antara lain dalam bentuk dupa untuk upacara ritual dan keagamaan. Pengharum tubuh dan ruangan, bahkan kosmetik dan obat-obatansederhana. Saat ini pemanfaatan gaharu telah berkembang demikian meluas antara lain untuk parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, bahan obat-obatan yang memiliki khasiat sebagai anti asmatik, anti mikroba dan stimulant kerja syaraf dan pencernaan.
Sampai saat ini gaharu yang tersebar di pasaran di dalam dan di luar negri masih berasal dari alam dengan kualitas kandungan resin yang sangat bervariasi.
Di pasaran lokal (dalam negeri) kualitas gaharu di kelompokan dalam 6 (enam) kelas mutu yaitu (1) SUPER (super king, super A, super AB); (2) Tanggung (3) kacangan (kacangan A, B dan C); (4) Teri (teri A, B, C, teri kulit A, B); (5) Kemedangan (A,B,C) (6) Sloan. Pengelompokan kelas mutu gaharu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesi (SNI) yaitu kelas Gubal, Kemedangan dan kelas Abu. Penetapan kelas mutu tersebut seringkali merugikan pihak pencari gaharu/pedagang pengumpul kerena tidak didasari oleh kriteria yang jelas.
Meningkatnya perdagangan gaharu sajak tiga dasawarsa terakhir ini telah menimbulkan kelangkaan produksi gubal gaharu dari alam. Berdasarkan informasi, harga gaharu kualitas super di pasaran lokal Samarinda, Kalimantan timur mencapai Rp.15.000.000,- s/d Rp.30.000.000,-, di susul kualitas tanggung dengan harga rata-rata Rp.10.000.000,-, kualitas kacangan dengan harga rata-rata  Rp.7.500.000,-, kualitas teri (Rp.5.000.000,- s/d Rp.7.000.000,-), kualitas Kemedangan (Rp.250.000,- s/d Rp.4.000.000,-) dan suloan (Rp.25.000,-).
Akibat dari pola pemanen yang berlebihan dan perdagangan gaharu yang masih mengandalkan pada alam tersebut, maka jenis-jenis tertentu misalnya Aquilaria danGyrinops saat ini sudah tergolong langka, dan masuk dalam lampiran Convention on International trade on Endangered Species of Flora and Fauna (Appendix II CITES). Guna menghindari agar tumbuhan gaharu di alam tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari maka perlu upaya konservasi, baik in-situ (dalam habitat) maupun ek-situ (di luar habitat) dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi (inokulasi). Oleh karena itu maka pengembangan budaya gaharu ke depan selain untuk konservasi juga sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,  pemerintah daerah dan devisa bagi negara.
Teknik Budidaya
Pada saat ini teknik budidaya tanaman penghasil gaharu telah dikuasai dengan baik dari mulai kegiatan perbenihan, persemaaian, penanaman dan pemeliharaannya. Adapun beberapa faktor yang harus  di perhatikan dalam kegiatan budidaya pohon penghasil gaharu adalah sebagai berikut:
Persyaratan Tumbuh
Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal, pohon penghasil gaharu perlu ditanam pada kondisi yang sesuai dengan tempat tumbuhnya di alam. Tempat tumbuh yang cocok untuk tanaman penghasil gaharu adalah dataran rendah, lereng-lereng bukit sampai ketinggian 750 meter di atas permukaan laut.
Jenis Aquilaria tumbuh sangat baik pada tanah-tanah liat (misalnya podsolik merah kuning), tanah lempung berpasir dengan drainase sedang sampai baik. Tipe iklim A-B dengan kelembaban sekitar 80%. Suhu udara antara 22-28 derajat Celsius dengan curah hujan berkisar antara 2.000 s/d  4.000 mm/tahun. Lahan tempat tumbuh yang perlu dihindari adalah : (1) lahan yang tergenang secara permanen, (2) tanah rawa (3) lahan dangkal (yang mempunyai kedalaman kurang dari 50 cm), (4) pasir kuarsa, (5) lahan yang mempunyai pH kurang dari 4,0.
Pembibitan
Bibit tanaman penghasil gaharu dapat di kembangkan melalui generatif dan vegatatif. Melalui generatif dilakukan dengan cara memanfaatkan potensi benih yang sudah masak dengan mengunduh biji atau benih yang jatuh dari pohon induk atau anakan (cabutan). Benih tanaman penghasil gaharu termasuk biji yang relaksitran, yaitu biji yang cepat menurun kadar airnya sehingga mempengaruhi daya kecambahnya. Oleh karena itu apabila benih sudah di dapat, disarankan agar segera dilakukan penyemaian tanpa harus di tunda-tunda.
Persemaian bibit penghasil gaharu dapat juga dibuat skala misal melalui stek pucuk, stek batang dan kultur jaringan. Setiap teknik perbanyakan akan mempunyai konsekuensi biaya produksi bibit.
Untuk perbanyakan stek pucuk, pengambilan bahan stek dapat barasal dari kebun pangkas atau bibit tanaman. Bahan stek yang baik adalah tunas yang tegak (autotrof) yang secara fisiologis muda, batangnya berkayu dan mempunyai jumlah ruas (nodum) lebih dari dua. Dengan penambahan hormon tertentu (yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan stek berakar dan mempercepat proses pertumbuhan akar) maka bahan stek telah siap di tanam pada bak pengakaran. Agar stek dapat berkembang menjadi bibit perlu pemeliharaan yang intensif meliputi penyediaan media yang sesuai, kelembaban yang tinggi, suhu udara dan cahaya yang cukup. Pemeliharaan dapat berlangsung sampai bibit siap tanam yaitu antara 6 s/d 8 bulan.
Pada tahap awal di persemaian, semua jenis bibit penghasil gaharu memerlukan naungan yang cukup (seperti halnya kelompok jenis Meranti). Untuk mempercepat pertumbuhannya, bibit penghasil gaharu dapat diinokulasi oleh cendawan mikoriza arbuskula (CMA) sejak dini di persemaian.
Penanaman
Penanaman bibit penghasil gaharu dapat dilakukan  secara agroforesty (tumpangsari) dengan tanaman jagung, singkong, pisang atau tanaman di sela-sela tanaman pokok yang telah tumbuh terlebih dahulu, seperti karet, akasia, sengon, kelapa sawit, dan lain-lain. Pada tahap awal pertumbuhan di lapang bibit penghasil gaharu memerlukan naungan. Dengan mengatur jarak tanam yang tepat, maka tanaman penghasil gaharu tidak akan mengganggu pertumbuhan tanaman pokok.
Apabila tanaman penghasil gaharu akan ditanam pada hamparan lahan yang luas dan masih kosong, maka jarak tanam dapat dibuat 3 m x 5 m, 4 m x 4 m atau 5 m x 5 m. Waktu penanaman di usahakan pada musim hujan agar bibit mendapatkan air yang cukup pada awal pertumbuhannya. Media tanam dapat berupa tanah dan kompos. Pada setiap lubang tanam di anjurkan untuk di berikan pupuk kompos minimum 1 kg setiap lubang. Pada tahap ini perlu diperhatikan mengenai pencegahan gangguan hama dan penyakit pada akar.
Pemeliharaan
Tanaman penghasil gaharu pada umur 1-3 tahun perlu dipelihara secara intensif, terutama mengurangi gangguan dari gulma. Karena tanaman penghasil gaharu telah bermikoriza, maka penggunaan pupuk kimia dapat diminimalisir. Setelah tanaman berumur 4-5 tahun, barulah tanaman penghasil gaharu siap untuk diinduksi secara buatan dengan menggunakan jamur pembentuk gaharu.
Jamur Pembentuk Gaharu
Sejumlah isolat jamur hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah diidentifikasi berdasarkan ciri morfologis untuk mengetahui keanekaragaman jenisnya. Hasil identifikasi menunjukan bahwa sebagian besar isolate yang di peroleh merupakan genus Fusarium dan isolate dari genus Cylindrocarpon.
Saat ini terdapat sekitar 23 isolat jamur jenis Fusarium yang telah di isolasi dari 17 provinsi di Indonesia dan di uji coba pada berbagai jenis tanaman penghasil gaharu di pulau Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Banten. Ada 4 isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Uji coba lebih lanjut ke 4 jamur tersebut telah dilakukan di beberapa tempat antara lain : Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat (Sukabumi dan Dramaga) dan Banten (Carita). Dalam waktu satu bulan saja, tanaman penghasil gaharu yang telah diinokulasi dengan jamur pembentuk gaharu di atas telah menunjukan tanda-tanda keberhasilan.
Rekayasa Produksi
Tahapan rekayasa produksi gaharu secara buatan melalui beberapa proses sebagai berikut :
1.
Isolasi jamur pembentuk. Isolate jamur pembentuk di ambil dari jenis pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh jenis pohon yang di budidayakan.
2.
Identifikasi dan skrining. Isolate jamur pembentuk di identifikasi berdasarkan taksonomi dan morfologinya. Proses skrining dilakukan dengan menggunakanpostulat Koch untuk memastikan jamur yang memberikan respons pembentuk gaharu, memang berasal dari jamur yang diinokulasi.
3.
Teknik perbanyakan inokulum. Biakan murni jamur pembentuk gaharu dapat di perbanyak pada media cair dan media padat.di perlukan keterampilan khusus dalam memperbanyak jamur agar proses kemurnian dan peluang masing-masing jenis jamur pembentuk gaharu akan memberikan respon yang berbeda apabila di suntik pada jenis pohon penghasil gaharu yang berbeda.
4.
Teknik induksi. Teknik induksi jamur pembentuk gaharu dilakukan pada batang pohon penghasil gaharu. Reaksi pembentukan gaharu akan dipengaruhi oleh daya tahan inang terhadap induksi jamur dan kondisi lingkungan. Respon inang ditandai oleh perubahan warna coklat setelah beberapa bulan disuntik. Semakin banyak jumlah lubang dan inokulum di buat maka semakin cepat pembentukan gaharu terjadi. Proses pembusukan batang oleh jamur lain dapat terjadi apabila teknik penyuntikan tidak dilakukan sesuai prosedur.
5.
Pemanenan. Pemanenan gaharu dapat dilakukan minimum satu tahun setelah proses induksi jamur pembentuk gaharu. Apabila ingin mendapatkan produksi gaharu yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, maka proses pemanenan dapat dilakukan 2-3 tahun setelah proses induksi jamur. Untuk sementara produksi gaharu buatan yang di panen setelah 3 tahun beberapa pada kelas mutu 2 (SNI) dengan harga jual US $ 800 per kg.

Source : Sulistyo A. siran, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.

Rabu, 31 Oktober 2012

Memetik Keuntungan Ditengah Kelangkaan GAHARU


"Sudah gaharu, cendana pula". Itulah pepatah yang menggambarkan bahwa kedua jenis kayu tersebut melambangkan kemakmuran. Kayu cendana maupun gaharu (dari genus Aquilaria spp) merupakan kekayaan sumber daya alam dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.
"Sudah gaharu, cendana pula". Itulah pepatah yang menggambarkan bahwa kedua jenis kayu tersebut melambangkan kemakmuran. Kayu cendana maupun gaharu (dari genus Aquilaria spp) merupakan kekayaan sumber daya alam dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Getah kayu memiliki nilai ekonomi yang tinggi, seperti gondorukem, getah gaharu yang terinfeksi, getah karet, dan banyak jenis lainnya. Kadang getah diambil dengan cara melukai pohon yang mengakibatkan kondisi kayu menjadi rusak.

Bagi kalangan tertentu, manfaat kayu gaharu telah membuahkan keuntungan yang cukup besar. Nilai ekonomis gaharu sebenarnya terletak pada gubal gaharu yang muncul setelah pohon gaharu terinfeksi dan mati. Gubal gaharu yang mengandung damar wangi (Aromatic resin) yang mempunyai aroma khas. Di Indonesia, dijumpai tidak kurang dari 16 jenis tumbuhan penghasil gubal gaharu.

Gubal gaharu tersebut akan tumbuh di tengah batang pohon gaharu. Secara tradisional digunakan sebagai bahan pewangi dan upacara keagamaan masyarakat Hindu dalam bentuk hio dan setanggi (dupa). Saat ini telah dikembangkan sebagai salah satu bahan baku dalam industri kosmetik, elektronik dan obat-obatan.

Adapun obat-obatan tersebut untuk menyembuhkan stres, reumatik, lever, radang lambung, radang ginjal dan kanker. Selain gubal gaharu, juga terdapat damar gaharu, kamedangan (kadar damar wangi rendah) dan abu gaharu (serbuk kayu gaharu).

Data Asosiasi Pengusaha Gaharu Indonesia (Asgarin) menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai kuota ekspor gaharu mencapai 300 ton per tahun namun akibat tingkat perburuan yang tinggi sehingga yang terpenuhi hanya sekitar 10-20 persen dari kuota tersebut.

Tingkat kelangkaan kayu gaharu juga mulai terlihat sejak tahun 1980-an ketika perburuan gaharu mulai dilakukan besar-besaran karena nilai ekspor yang tinggi.

Tidak jarang ditemui banyak pohon gaharu yang sudah mati belum saatnya karena pencarian gubal yang begitu gencar. Padahal, secara alamiah gubal tersebut akan muncul pada gaharu yang terinfeksi jamur. Akibatnya banyak gaharu yang ditebang dan sudah mulai langka, baik di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua dan Maluku.

Sejak saat itulah gaharu, khususnya jenis A malaccensis Lamk telah masuk dalam daftar Apendix II pada Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) IX di Florida November 1994. Ini artinya, penebangan kayu gaharu dan ekspor hasil ikutannya seperti gubal gaharu harus dibatasi.

Jenis lain yang juga mulai langka adalah Gyrimops cumingaina yang banyak dijumpai di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian gaharu jenis ini hanya bisa diperdagangkan jika diambil dari hasil bui daya dan bukan dari alam untuk mencegah kepunahan. Untuk jenis terbaik dari gubal gaharu kelas super harganya mencapai tiga hingga empat juta rupiah per kilogram (kg).
Jenis Gubal 
Dalam perdagangan gaharu biasanya dikenal dengan beberapa jenis gubal gaharu dari yang terbaik adalah kelas Super, AB, BC, C1 dan C2 (Kemedangan). Data yang ada menunjukkan bahwa sumbangan gaharu untuk devisa negara pada tahun 1995 mencapai Rp 6,2 miliar. 

Rata-rata peningkatan ekspor gaharu terus meningkat dengan tujuan Singapura, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Jepang dan Eropa. Tingkat kebutuhan dan nilai ekonomis yang tinggi menyebabkan banyak kalangan berupaya mendapatkan gubal gaharu tersebut.

Oleh sebab itu, kalangan pengusaha, aparat kehutanan dan pemerintah daerah serta masyarakat saat ini sangat mendukung upaya budidaya yang dikaitkan dengan pengembangan hutan kemasyarakatan.

Ini sangat penting mengingat budi daya gaharu pun sebenarnya bisa dilakukan dengan teknik tumpang sari pada tanaman tahunan seperti karet dan pohon sengon. Budi daya tersebut lalu didukung dengan teknik inokulasi dengan menyuntikan mikoriza (sejenis jamur) untuk mendapatkan gubal gaharu.

Nikmat gaharu mulai dirasakan oleh Usman Mansyur (41), warga desa Pulau Aro, Kecamatan Tabir Ulu, Kabupaten Merangin, Jambi. Usman mengenal gaharu sejak tahun 1985 ketika banyak yang datang ke desanya dan mencari gubal gaharu. Sejumlah petani di desa tersebut pun masuk hutan untuk mendapatkan gubal gaharu. Semakin hari ternyata semakin sulit mencari pohon gaharu.

Atas dorongan berbagai pihak, melalui Kelompok Tani Penghijauan Indah Jaya, Usman bersama 116 petani lain di desa tersebut mulai membudidayakan gaharu di atas areal sekitar 100 hektare (ha). Tidak kurang dari 200.000 bibit gaharu sudah terjual. Sejak setahun lalu, permintaan bibit berdatangan dari Kalimantan Tengah, Suamtera Barat, Lampung, Jakarta dan Bogor. Usman mematok harga Rp 3.500 per bibit gaharu di lokasi pembibitan.

"Petani-petani sudah membudidayakan gaharu di lahan pertanian dengan tumpang sari pada tanaman karet dan sengon. Sedangkan penjualan bibit yang diambil dari alam sudah membantu anggota kelompok kami," kata Usman.

Pada usia lima hingga enam tahun pohon gaharu sudah dapat dipanen setelah disuntik dengan mikoriza dan pada bulan ke-enam mulai menunjukkan tanda-tanda terinfeksi. Gaharu pun menjadi potensi tersendiri bagi Kabupaten Merangin dengan jumlah penduduk 254.203 jiwa dan luas wilayah sekitar 767.900 ha ini.

Lahan yang tersedia dan bibit yang mudah diperoleh, biaya produksi sekitar Rp 147.000 juta untuk satu hektare lahan (sekitar 600 batang pohon, Red) seakan-akan tidak menjadi beban bagi para petani tersebut. Pola seperti ini sebenarnya sejalan dengan pengembangan hutan kemasyarakatan.
Prospek 
Prospek cerah inipun mendorong Syafaruddin dan Joni Surya dari Bengkulu untuk mengembangkan dan menjual bibit gaharu. Bisnis percetakan yang dirintisnya pun dikembangkan dengan pembibitan gaharu. Permintaan bibit yang dibudidayakan baik melalui benih maupun stek terus meningkat. Bahkan, sejumlah pohon gaharu di sekitar pemukimannya telah dibeli dan tinggal menunggu panen gubal gaharu. 

Namun demikian, prospek bisnis tersebut tidak menghadapi masalah. Menurut Syasri Wirzal, pedagang gaharu asal Pekan Baru ini, kendala perdagangan kayu gaharu adalah masih banyak penyelundupan sehingga mempengaruhi fluktuasi harga.

Hal tersebut menyebabkan keuntungan yang diambil lebih banyak oleh importir di Singapura dan menyebabkan harga tidak stabil. Pemerintah seharusnya mencegah agar tingkat penyelundupan dapat ditekan, apalagi pintu ekspor masih didominasi melalui Singapura.

Kondisi tersebut, jelasnya, menunjukkan bahwa budidaya yang tengah dilakukan juga harus diantisipasi dengan menjaga harga pasar yang stabil.

"Tidak menutup kemungkinan pada saat panen berlebihan harga akan anjlok sehingga petani merasa dirugikan. Untuk tanaman tahunan seperti ini perlu dijaga benar kondisi harga sehingga tidak dipermainkan oleh importir," kata Ketua Asgarin Provinsi Riau ini di Jambi beberapa waktu lalu di sela-sela kegiatan Temu Usaha Gaharu.

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang cukup besar. Nilai tambah keunggulan tersebut semakin baik jika tidak sekadar mengandakan bahan baku atau produk primer saja. Dengan demikian, potensi gubal gaharu seharusnya tidak langsung diekspor tetapi diolah sesuai kebutuhan konsumen.

Langkah ini pun semakin berdampak pada kesejahteraan pelaku usaha pengolahan gaharu dan tidak saja menguntungkan pedagang pengumpul gaharu. Sampai saat ini, keberadaan industri pengolahan harus diakui masih sangat minim. 

GAHARU; Prospek & Analisa Bisnis Budidaya



Analisa biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu, pada luasan tanah 1.000 m2, jangka waktu 8 tahun. Dengan jarak tanam 3 X 3 luas tanah 1.000 m2 cukup ideal ditanami gaharu sebanyak 100 batang. Berikut ini adalah perincian biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu:
1.    Biaya
Biaya dibedakan menjadi 3 yaitu: biaya tahap 1 (pengadaan bibit, penanaman dan perawatan di tahun pertama), biaya tahap 2 (perawatan tanaman pada tahun ke-2 sampai tahun ke-5), dan biaya tahap 3 (inokulasi dan perawatan pasca inokulasi tahun ke-6 sampai tahun ke-8).
A.  Biaya Tahap 1 :
Pembelian bibit 100 batang @ Rp.35.000
:
3.500.000
Pupuk kandang 200 kg @ Rp.500
:
100.000
Pestisida (Furadan, Stiko, Dithane, dll)
:
150.000
Tenaga Penanaman
:
200.000
Tenaga Perawatan
:
300.000
Jumlah
:
4.250.000
B.  Biaya Tahap 2 :
Pupuk Kandang
:
800.000
Pupuk Pabrik
:
1.000.000
Pestisida
:
1.000.000
Tenaga Perawatan
:
1.000.000
Jumlah
:
3.800.000
C. Biaya Tahap 3 :
Fusarium SP 100 botol @ Rp. 300.000
:
30.000.000
Tenaga Inokulan
:
5.000.000
Tenaga Perawatan
:
1.000.000
Tenaga Panen
:
5.000.000
Jumlah
:
41.000.000

Jumlah A + B + C
:
49.050.000

2.    Penerimaan
Dengan asumsi bahwa tingkat keberhasilan inokulasi adalah 75% saja, dari 180 batang tanaman cuma menghasilkan 75 batang pohon saja yang bisa dipanen. Satu batang pohon gaharu dengan masa inokulasi 3 tahun menghasilkan rata-rata 2 kg gubal, 10 kg kemedangan, dan 20 kg abu. Sehingga total yang dihasilkan dari 75 batang adalah 150 kg gubal, 750 kg kemedangan, dan 1.500 kg abu.
a.    Gubal 150 kg @ Rp. 6.000.000                     = Rp.   900.000.000
b.    Kemedangan 750 kg @ Rp. 1.000.000       = Rp.   750.000.000
c.    Abu 1.500 kg @ Rp. 100.000                        = Rp.    150.000.000
Jumlah                                                               = Rp.1.800.000.000

3.    Keuntungan
Penerimaan - Biaya = Rp.1.800.000.000 - Rp. 49.050.000 = Rp.1.750.950.000

Rata-rata perpohon gaharu umur 5 tahun dengn masa inokulasi 3 tahun (tahun ke-6 sampai tahun ke-8), menghasilkan 25 juta rupiah lebih. Jadi, dari investasi sebanyak 50 jutaan, berpotensi menghasilkan 1.8 milyar rupiah dalam kurun waktu 8 tahun.

Catatan :
Analisa bisnis budidaya pohon penghasil gaharu tersebut di atas bukanlah angka mutlak. Dalam kenyataannya terdapat berbagai variabel yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan budidaya. Namun demikian, analisa tersebut dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk memulai action dalam bisnis budidaya gaharu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
"Hari ini kita menanam, besok atau lusa kita panen raya" 

Info & Order Bibit;
0815 7022 032
info.bumiforestry@gmail.comAnalisa Budidaya GAHARU


Budidaya Pohon Penghasil Gaharu

Budi daya tanaman gaharu sudah mulai dilakukan di beberapa tempat, dan menunjukkan prospek yang sangat baik.  Pengelolaan tanaman nya tidak berbeda dengan tanaman lainnya.  Perawatan yang intensif dapat memacu pertumbuhan sehingga seperti di Vietnam sudah bisa dilakukan inokulasi pada tanaman usia 4 (empat) tahun.

Pada panduan pengelolaan tanaman gaharu, biasanya tanaman sudah siap untuk diinokulasi pada usia 6 tahun. Akan tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan usia untuk dapat menghasilkan gaharu.  Hal tersebut sangat tergantung dengan diameter tanaman. Sehingga pembuatan lubang inokulasi sejauh lebih kurang 1/3 diamter pohon secara spiral dan vertikal dengan spasi yang bervariasi tidak menyebabkan pohon rentan patah.
  
Perawatan tanaman dengan pemupukan bahan organik sangat disarankan. Sehingga pertumbuhan pohon bisa optimal dan menghasilkan performa batang yang baik. Pemangkasan cabang harus dilakukan untuk memacu pertumbuhan vertikal pohon sehingga diameter pohon dapat berkembang sesuai yang diharapkan dan menghasilkan jaringan batang yang siap untuk dilakukan inokulasi.
Pembuatan jarak tanam pada saat penanaman sangat bervariasi sesuai dengan pola yang akan dikembangkan.  Jarak tanam yang cukup rapat seperti 3×1 m cukup ideal untuk membuat kualitas tegakan vertikal.  Pelebaran jarak tanam dapat dikompensasi dengan perawatan tanaman yang lebih intensif.  Jarak yang cukup lebar seperti 6 x 2 m atau 3 x 3 m memberikan kesempatan untuk mengkombinasi dengan tanaman pertanian sebelum terjadi penutupan tajuk. Beberapa teknis yang dikenalkan bisa dengan monokultur atau dicampur dengan pohon pelindung.


Rabu, 24 Oktober 2012

One Man One Tree


Sukseskan Penanaman 1 Milyar Pohon Tahun 2010

S I A R A N   P E R S
Nomor: S.176/PIK-1/2010

SUKSESKAN PENANAMAN 1 MILYAR POHON TAHUN 2010
(ONE BILLION INDONESIAN TREES FOR THE WORLD)

Upaya menumbuhkan budaya menanam di masyarakat dilakukan Kementerian Kehutanan melalui berbagai program penanaman. Tercatat program yang telah dilaksanakan antara lain Aksi Penanaman Serentak Indonesia (tahun 2007 dan 2008), Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (tahun 2007), Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (tahun 2008), serta Satu Orang Satu Pohon (One Man One Tree - tahun 2009).

Keberhasilan seluruh program tersebut memacu pemerintah  untuk meluncurkan program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 dengan motto “Satu Miliar Pohon Indonesia untuk Dunia” atau “One Billion Indonesian Trees for the World”. Penyediaan bibit direncanakan melalui anggaran DIPA BA tahun 2010 sebanyak 36 juta batang, partisipasi para pihak (swasta, BUMN, LSM, Pemda, lembaga donor) 300 juta batang, Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa 320 juta batang, Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai 300 juta batang, serta Hutan Rakyat Kemitraan sebanyak 50 juta batang.

Melalui program Penanaman 1 Miliar Pohon Tahun 2010 ini Kementerian Kehutanan juga berupaya untuk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar hutan. Beberapa skema yang ditempuh Kementerian Kehutanan adalah melalui Hutan Kemasyarakatan, dimana tahun 2010 ini direncanakan seluas 210.749,64 ha, Hutan Rakyat Kemitraan seluas 203.833 ha, Hutan Desa seluas 10.310 ha, dan pencadangan Hutan Tanaman Rakyat mencapai 480.303 ha. Total luas seluruh skema tersebut mencapai 905.195,64 ha. Apabila setiap Kepala Keluarga (KK) diberikan ijin kelola rata-rata seluas 15 ha, dan melibatkan 4 orang sebagai tenaga kerja, maka sedikitnya 60.346 KK atau 241.384 tenaga kerja terserap dalam pengelolaan hutan ini. Apabila setiap hektare yang dikelola masyarakat dapat menghasilkan 200 m3 kayu dengan harga Rp. 500.000,00/m3, maka setiap hektare lahan dapat menghasilkan 100 juta rupiah, atau Rp 1,5 miliar setiap KK.

Selain program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010, suksesnya program One Man One Tree tahun 2009 juga masih dapat ditingkatkan. Apabila pada tahun 2009, 1 orang menanam 1 pohon selama kurun waktu 1 tahun ditingkatkan menjadi 1 orang menanam 1 pohon setiap bulan selama kurun waktu 1 tahun, maka dalam waktu 1 tahun akan tertanam 2,76 miliar pohon!
Secara individu, secara keluarga, kelompok, RT, RW, Desa, Kelurahan, Kecamatan, Wilayah, hingga Pemerintah Daerah harus diupayakan berpartisipasi melakukan penanaman pohon. Kita harus mulai dari diri sendiri, kita mulai dari lingkungan kita sendiri, kita mulai dari sekarang. Mari bersama kita sukseskan Penanaman 1 Milliar Pohon Tahun 2010, ONE BILLION INDONESIAN TREES FOR THE WORLD!

Gerakan penanaman dan pemeliharaan pohon, harus terus digelorakan dan dilakukan secara kontinyu pada setiap tahun masa tanam. Dalam waktu 5 sampai 10 tahun mendatang, bangsa Indonesia akan menikmati indahnya bumi Indonesia hijau berseri dengan masyarakatnya yang sejahtera, jauh dari bencana.

Jakarta, 19  Maret  2010             
Kepala Pusat Informasi Kehutanan,
ttd.                      
Masyhud                   
NIP. 19561028 198303 1 002